Langsung aja, pengennya nge blog singkat aja si..
Pada tau 'kan, kalau di channel TVO*e ada acara yang isinya kompetisi dakwah? Nah, sampai sebegitunyakah orang-orang pertelevisian menjual acaranya demi nominal rupiah?
Setau saya saja sih, memang di Indonesia masih belum bisa meninggalkan kebiasaan 'follow the mainstream'. Nah, ketika jaman AA Gym dulu berdakwah dan banyak orang suka, maka para pendakwah (ustad) lain mulai bermunculan. Ustad yang dahulu kliatannya kolot, berjenggot, berbusana Arab sudah tidak begitu nampak. Yang keluar malah para ustad ganteng. Kemudian muncul juga di layar kaca ustad perempuan yang bicaranya tajam tapi penuh kasih. Nah, begitu fenomena para pendakwah ini muncul, langsung aja di follow up dengan kehadiran 'kompetisi' para da'i cilik mulai diajarin bahasa-bahasa yang cukup berat bagi mereka, kemudian disusupi dengan cara pikir orang dewasa. Sehingga nampak keren ketika para da'i cilik ini berbicara, seakan membuka pikiran orang dewasa akan perkataannya ini.
Memang semua ada baik buruknya. Para anak kecil ini memang sudah diajarkan tentang pendidikan agama sedari kecil. Itu bagus. Tapi, bukankah proses hidup dan waktu yang akan mendewasakannya?
Kemudian negatifnya adalah, mengapa sampai acara ini diperjualbelikan seperti ini? Mungkin ada yang bertanya, maksud dari diperjualbelikan apa ya? Gini, kita tahu kan kalo acara masuk tv itu harus bayar pake uang yang ga sedikit kan.. Tiap detik di tv adalah uang. Nah, otomatis para sponsor iklan, dll harus bayar buat ngehidupin biaya acara ini. Nah, apa sampai sebegitunya kalo cari uang harus pake acara kotbah+sms+juara? Pikir saya, kok dakwah aja sampai dijual?! Bukankah seharusnya kita memberikan dakwah itu secara gratis? Program kompetisi ini juga kurang pas untuk acara semacam dakwah, kalo kompetisi nyanyi / adu bakat sih masih okay, tapi kalo sampai surat-surat Nabi aja dijadikan kompetisi, rasanya kurang pas.
No comments:
Post a Comment