Mungkin disini, aku bakal cerita detail mengenai perjalanan di bidang musik. Terutama perkusi. Yang pasti bukan untuk kesombongan atau menunjukan sesuatu, tapi aku pengin biar orang terlecut semangatnya ketika membacanya. Oke, have a nice day!
From nothing to be something!
Awal senang dengan dunia musik adalah ketika masih kecil. Mungkin balita. Sudah senang bernyanyi dan bermain-main gitar mainan di rumah kala itu. Tapi, sebenarnya mulai belajar alat musik secara formal adalah ketika belajar drum. Saat itu masih SD. Lupa kelas berapa, mungkin kelas 5 / 6 SD. Les drum adalah ketika koko mengatakan ke papi bahwa ingin belajar drum. Saat itu koko sudah SMP kelas 3 atau SMA kelas 1. Kita belajar drum bersama, dengan guru yang sama, yaitu Pak Muh. Kita belajar waktu itu di Gereja Keluarga Allah, satelit Veteran. Belajar drum bukan merupakan passion ku saat itu. Hanya ingin belajar alat musik saja, setidaknya bisa 1 alat musik, tidak perlu jago, yang penting bisa main band aja cukup. Proses belajar saat itu berjalan cukup baik. Memang sih, koko langsung dengan cepat menguasainya, karena mungkin ada passion+umurnya yang sudah remaja membuatnya sadar bagaimana memainkan drum dengan baik. Les drum hanyalah 1jam dalam 1minggu. Mungkin sudah ada bakat seni sedikit dalam diri ini, maka drum cukup aku kuasai dengan cepat. Walaupun aku tidak belajar not baloknya dan tidak balajar tempo. Hanya belajar bagaimana memukul drum dengan benar dan diajarin beberapa pattern biasa, seperti tempo 16 bit, 32 bit, dan lain sebagainya.
Nah, dari belajar drum ini, sewaktu perpisahan SD, akan diadakan acara band untuk mengisi acara perpisahan. Guru musik saat itu Bu Sari Dasanta, mencari orang yang bisa bermain drum, keyboard, gitar,dan bas. Mereka akan diajarin musik lebih lagi di Sekolah Musik Indonesia di Jl. Slamet Riyadi, Solo. Nah, waktu itu ternyata aku masuk seleksi bermain drum, tapi saat mengisi formulir di SMI, saya iseng-iseng mengisi kalau aku pegang alat musik 'ketipung'. Kemudian akhirnya belajar drum dengan formal disitu. Lumayan sih, belajar drum gratis, karena dibiayai dari SD. Disitu diajarin cara membaca not drum dan diajarin tempo. Dari situ baru mengenal bahwa drum ternyata juga memakai not. Akhirnya kami bermain band dengan cukup baik saat perpisahan SD itu, memainkan 1 lagu. Yaitu "Berita Cuaca - Boomerang".
Kemudian beranjak SMP. Ketika di SMP, mulai malas bermain drum. Karena melihat kakak-kakak kelas yang lebih jago bermain drum, itu membuatku lebih malas bermain drum, bukan malah menambah keinginan untuk belajar drum. Hal itu juga dikarenakan bahwa kalau les drum recara formal, maka akan belajar tentang not dan tempo dalam drum. Hal itu membuat bosan dan blas tidak ingin belajar drum lagi. Tapi, suatu saat temanku, Marcel (gitar) mengajak untuk ikut festival band khusus SMP se-Surakarta. Akhirnya dikenalkan dengan beberapa teman baru yaitu Theo (bass), Copet (nggak tau nama aslinya, ingetnya cuma copet aja - gitar). Kemudian vokalisnya Bonifasius Wisanggeni, temen SD. Dan kita berlatih beberapa kali di studio musik dekat rumah Marcel.
Akhirnya festival tiba, kami main 2 lagu. Lupa sudah lagu apa itu, yang pasti akhirnya kami dapat juara 3 kalau nggak salah, soalnya piala sampai sekarang ada di rumah Marcel. Setelah itu kami off cukup lama. Akhirnya pada SMP kelas 2 ada festival lagi, malas lagi untuk ikut, tapi dipaksa untuk ikut lagi. Ya sudah, akhirnya ikut lagi lomba band SMP, kami juara favorit.
Nah, setelah itu tidak pernah ikut lomba band lagi, karena minder dengan kakak kelas+adik kelas yang mainnya lebih jago daripada aku. Waktu kelas 3 SMP, diajak main band lagi, untuk senang-senang saja. Ketika itu ya ikut aja, karena buat senang-senang. Rendy (bass), Oki (gitar - keren banget anak ini mainnya!), Bayu (gitar-rhtym), kemudian vokalisnya kali ini cewek, lupa namanya siapa. Aliran musik yang ini, ROCK abis!! Kami main band untuk terakhir kalinya bersama band ini yaitu untuk perpisahan SMP. Menurutku, kali itu lebih keren daripada waktu SD dan waktu ikut festival band SMP dulu.
Beranjak ke SMA, tambah jarang lagi bermain musik. Karena konsentrasi saat itu ada di pelajaran + bermain basket. Di SMA ini, sudah tambah kuat untuk mempelajari alat musik pukul lain, selain drum. Pikiran saya tertuju di perkusi. Karena melihat di gereja, kalau ada alatnya dan pemainnya kelihatan keren waktu memainkannya. Waktu itu jarang banget ada pemain perkusi di gereja. Setauku cuma ko Michael, mainnya keren juga, dia main bersih banget kliatannya saat itu. Untuk pelayanan musik di gereja, saat itu masih melayani drum, tapi hanya 1-2 lagu worship saja, sebagai additional player saja.
Nah, di SMA ini, permainan tambah kacau balau, sudah tempo acak adut, skill nggak nambah-nambah. Merasa tertekan waktu ada pemain lain lihat cara bermainku. Malu, minder, males main itu yang membuat tambah nggak mau pegang drum lagi.
Kemudian setelah itu, timbullah rasa pengin tahu lebih dalam lagi ketika
melihat orang lain main djembe. Wah, alat ini kliatan asik banget kalo
bisa mainnya. Awal pertemuan dengan djembe, adalah ketika di Solo
Square, ada pameran alat musik etnik disana. Dari sana, waktu jalan
dengan mami juga sih, terus tanya-tanya kalomau beli harga berapa, kalo
les bisa nggak?
Mami terlihat masih ragu-ragu akan keinginanku yang ini. Karena takut kalo setelah diperbolehkan, nantinya aku malah setengah-setengah. Pada akhirnya bisa dapat nomer telp mas
Lanjar. Salah 1 pemain djembe yang terkenal di Solo. Trus aku ke
rumahnya, yang juga workshop nya, buat tanya-tanya akhirnya deal les
djembe. Lalu aku membeli djembe dengan uangku sendiri, masih ingat saat itu harganya Rp 500.000,00. Dari situ, mami tau kalo aku mau serius. Trus, minta mami biayain lesnya, total harusnya les 8x pertemuan, tapi setelah pertemuan ke-4,
aku sudah bisa menguasai hampir keseluruhan nya, yang pasti basic dan
tekhnik sudah bisa semuanya. Hanya perlu dipoles sendiri sedikit, aku
bisa semuanya. Jadi, hanya dengan 4x pertemuan saya sudah bisa baca not
nya sekaligus (belajar not karena sudah sadar kalo not sangat penting).
Dari situ, aku tambah pede, dimana bisa main conga (Amerika Latin) dan
djembe (Afrika). Selain itu, dari perkenalan dengan mas Lanjar, aku bisa
menambah toys (alat-alat perkusi yang kecil-kecil) etnik ku, yang nggak
semua pemain perkusi punya.
Pada saat kelas 3 SMA, akhirnya memberanikan diri lagi untuk bicara ke mami bahwa pengin belajar perkusi. Dengan segala kecintaan mami padaku, beliau mencarikan nomor handphone mas Angga yang adalah pemain perkusi di gerejaku. Bukan pemain profesional sih, tapi sudah sering bermain perkusi untuk pelayanan di gereja. Saat itu aku mulai latihan perkusi, semester 2 kelas 3 SMA. Nah, disitu aku diajarin cara bermain alat musik asal Amerika Latin itu. CONGA. Latihan di gereja, sore hari. Malu sih awalnya, latihan di gereja, belum bisa apa-apa, kadang ada orang lewat di ruang ibadah, tambah malu rasanya. Diajarin teknik pukulannya yang terdiri dari 2 pukulan dasar 'slap' dan 'open tone'. Karena rasa ingin tahu, makanya latihan itu dapat kukuasai kurang lebih 1 sore itu, belum perfect sih, tapi tone yang keluar sudah lumayan baik karena memang baru 1x belajar itu.
Kemudian minggu depannya lagi, belajar lagi bersama mas Angga. Dan ternyata, aku latihan itu, ada yang tahu. Teman pelayananku tahu. Trus diajak pelayanan lagi, disuruh main conga. Wah, karena modal nekat, ya sudah lah batinku untuk ikut pelayanan lagi. Toh pelayanan juga di kebaktian Remaja, jadi yang datang cuma teman-teman sepantaran dan nggak tau cara main conga. Akhirnya aku pelayanan setelah kurang lebih 2 bulan latihan tidak intensif itu.
Proses perkenalanku dengan conga sebenarnya adalah ketika waktu aku kuliah semester 1 di Surabaya. Bukan di Surabaya memang perkenalanku dengan conga, di Solo tepatnya. Waktu itu, liburan, jadi aku pulang ke Solo. Nah, di gereja ternyata mau ada acara KKR by GMB. Setahuku saat itu, Adi Prasodjo, percussionist GMB adalah yang terbaik di Indonesia. Nah, dengan sedikit nekat, bilang ke mami. 'Mi, aku pengen les ke Mas Adi. Boleh?' tanpa diduga mami jawab 'Tanya sana sama mas Adi, ke gereja sana, GMB baru sound check'. Wah, langsung aja, ambil motor langsung ke gereja. Di situ juga ada mas Angga yang ada sebagai asisten P. Adi waktu di Solo. Wah, langsung aja minta dikenalin ke P. Adi. Dari situ, bilang kalo mau belajar conga. Nah, langsung on the spot suruh pukul tuh conga yang ada di gereja. Ternyata pakai tekhnik yang dikasih mas Angga kurang pas. Diajarin on the spot tekhnik yang bener. Wah, malu nggak karuan waktu itu. Gimana nggak malu, lagi bilang mau belajar, langsung diajarin ditempat, disuruh nge-slap sampe bener, diliatin Amos Cahyadi (drummer GMB) sisan! Belum lagi dilihat orang-orang gereja yang lagi pada bingung sound check+atur lighting.
Trus bilang ke Pak Adi, kalo mau serius latihan perkusi. Ehhhh.... Disuruh ke Jakarta! Buset, ke Jakarta?? Udah berasa kaya orang mau jadi profesional aja nih kayaknya, latihan conga aja sampe Jakarta. Trus langsung aja bilang ke mami, kalo ditawarin pergi ke Jakarta. Eh, ternyata sama mami malah ditantang, kalo brani ya brangkat! Wuhhhh... Langsung dah, setelah dapet nomer hp P. Adi dari mas Angga, langsung setelah itu kabar-kabaran lewat handphone. Disuru beli alatnya dulu (conga), karena kalo sudah latihan nggak ada alat buat latihan lanjut, percuma katanya. Ya udah, akhirnya aku sepakat masalah harga alat bekasnya+biaya latihan+penginapan di kos milik pak Adi di daerah Cempaka Putih, Jakarta.
Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Januari aku ke Jakarta, setelah menghadiri pernikahan saudara yang di di Jakarta, tepatnya di hotel Novotel, trus aku menginap sehari di rumah saudara, setelah itu besoknya langsung naik taxi ke daerah Cempaka Putih. Serasa orang yang mau menaklukan Jakarta! Hahaha.. Karena belum pernah naik taxi sendiri di Jakarta, lagian nggak tahu jalan sama sekali, trus ditelepon sama Pak Adi, handphone suru kasih ke sopirnya, trus diancer-ancerin deh tu sopir, disuruh anter ke perumahan tentara di Cempaka Putih. Langsung tuh sopir taxi bergidik, nanyain mau ngapa disana. Hahaha.. Dengan pede aja bilang kalo mau nemuin orang disana. Setelah beberapa jam di jalanan yang macet, tiba sudah ke rumah pak Adi. Trus setelah istirahat sebentar, langsung diajak ke kamarku, trus naruh-naruh barang trus turun lagi ke lantai 1 buat masuk studionya. Langsung dah, siang itu latihan 'slap' sampe sore. Nggak diduga, ternyata slap pake tangan kiri yang dari 0 bisa saat itu juga. Memang sih latihannya ngebuat tangan bengkak-bengkak, tapi puas lah, bisa dapet tone-nya dalam beberapa jam saja. Setelah itu malah bisa melakukan 'slap' dengan tangan kanan-kiri.
Nah, setelah itu, hari berikutnya, slap sudah agak hilang, karena bengkak-bengkak tangan belum sembuh. Mulailah diajarin tekhnik lain + pattern awal. Dari awal karena memang perjanjian hanya latihan 2 minggu, makanya nggak diajarin not perkusinya. Nah, itu salah 1 kesalahan terbesarku, karena tutup mata buat not + pengin cepet bisa. Akhirnya aku diajarin langsung tekhnik yang benar+nonton DVD dari Berklee,USA. Pusat latihan para master perkusi dunia. Dari situ, timbul banyak hal yang ternyata membuka mata lebar-lebar, dunia musik nggak segampang yang dipikirkan.
Hari-hari di Jakarta diisi dengan latihan perkusi pagi-siang-sore, jalan-jalan ke mall kalo bosen sama pak Adi, ke gereja hari Minggu + kadang hari lain karena pak Adi ikut bantuin pelayanan persekutuan doa, trus ketemuan sama orang-orang GMB (waktu itu vokalis sudah ganti Bams), pergi ke apartemen Joseph S. Djafar, pergi latihan untuk rekaman album GMB community (ketemuan sama orang-orang musik rohani keren-keren disana), pagi hari diajak pergi makan bakso babi paling enak seantero Jakarta! hahaha.. Sempet waktu itu, 2 hari ditinggal pak Adi ke Kalimantan, karena ada workshop disana, aku ditinggalin rekaman kaset pattern baru, tapi ya bisa diprediksi, aku ga bisa memainkannya, karena masih awam dengan nada-nada + tekhnik perkusi, jadi kalo secara audio saja, sangat sulit buat aku. Setelah pulang dari Kalimantan, aku disuruh praktekin, ya uda bilang aja nggak bisa. Hahahaha.. Trus diajarin lagi.
Oh ya, sempet juga makan ikan Black xxxx (nggak tau nama pastinya, di Google juga nggak nemu)! Wah, ikan ini mantab ajib marijib bener! Pak Adi habis mancing dari daerah Sumatra katanya, bareng sama orang Mancing Mania (trans7), trus dapet itu, akhirnya dibawa pulang ke Jakarta! Itu ikan panjang banget, sampe bawanya ke Jakarta pake 2 styrofoam panjang 1 meteran. Kita makan bareng sama 2 anak Pak Adi.
Trus akhirnya nggak cuma conga aja, bongo, tambourine, shaker, triangle, dll diajarin sekalian, walupun nggak mendetail pelajarannya. Oh ya, dikamar dikasih 1 set conga, buat latihan conga tiap harinya, jadi nggak perlu ke studio yang di lantai 1 tiap mau latihan.
Nah, akhirnya sudah tuh belajar conga di Jakarta. Total mungkin sekitar 20 hari belajar conga itu. balik Solo, ternyata lumayan banyak yang tau kalo sempet latihan perkusi di Jakarta, dari situ, tambah disuruh pelayanan di kebaktian umum di gereja. Rasa pe-de mulai ada, karena sudah mendapat basic yang lumayan mapan, dibandingkan pertama-tama belajar perkusi.
Setelah bisa main conga+djembe, ajakan untuk bermain perkusi semakin banyak.
Nah, setelah itu, aku lanjut ke Surabaya, untuk kuliah lagi. Pada April 2009 aku baru settle di Gereja Mawar Sharon. Disitu aku nggak nemuin pemain perkusi, bahkan alatnya pun tidak ada di mimbar. Dari situ aku tambah ingin untuk melanjutkan pelayanan di Surabaya. Dengan koneksi ko Raymond (teman koko ku) yang adalah drummer aktif di GMS, aku dapat kenal dengan ce Ezra disitu. Setelah itu, mereka ragu apakah aku memang bisa bermain dengan baik, atau hanya bisa-bisaan aja. Aku jawab aja kalo memang bisa bermain dan punya alat sendiri, jadi gereja nggak perlu khawatir membeli alat diawal aku pelayanan. Mungkin sekitar bulan Agustus, ada pembukaan pendaftaran untuk pemusik+penyanyi untuk pelayanan di GMS. Di situ, aku ikut audisinya. Ternyata benar, cuma aku saja pemain perkusi. Aku angkat-angkat alat sendiri, menyiapkan sendiri alat-alatnya (2 conga + 1 tas toys). Dari 2 lagu yang diberikan (1 worhsip, 1praise) aku sudah cukup menguasainya, karena 2 lagu itu memang nggak pake perkusi, jadi hanya pake shaker+tambourine, gampang banget waktu itu emang. Ehhh... ternyata aku nggak main lagu itu. Aku cuma disuruh ngikutin tempo drum + jamming session aja. Wah, grogi abis! Setelah drum yang mulai, aku disuruh solo perkusi. Ini hal paling nggak aku suka! Karena dari sini bakal kelihatan grogi ku yang nggak karuan. Tapi aku akhirnya hanya pejam mata, trus main pake hati. Udah selesai, akhirnya keluar ruangan. Setelah itu, kami semua yang audisi disuruh untuk nunggu hasil audisi di tempel di papan pengumuman. 1 bulan nggak ada di papan pengumuman. Karena penasaran, aku telp ke departemen Praise and Worship. 3x aku telp, dengan rentang 1 mingguan. Akhirnya minggu ke-3 di kabarin kalo aku disuruh dateng ke GMS buat wawancara. Disana dibilang ternyata memang akhirnya sengaja nggak dipasang di papan pengumuman. Yang lolos cuma 3 orang. Dan hanya 3 orang itu saja yang ternyata mencari kabar pengumuman audisi itu. Wah, itu kaya memang sudah jalan Tuhan.
Trus di GMS ternyata nggak gampang buat pelayanan. Kita harus ikut cell group dulu, dan pelayanan pertama baru dikasih tahun depannya. Tapi, mungkin ini sudah panggilan Tuhan. Waktu itu, aku dicari oleh ko Raymond, untuk diajak pelayanan waktu Natal 2009. Akan ada konsep perkusi pakai barang-barang bekas. Nah, disitu aku ikut-ikut aja, karena masih nggak tau kaya apa playanan di GMS. Ternyata aku disuruh main pake conga+djembe, sedangkan yang lain main pake tong-tong bekas. Wah, itu pengalaman pertama pelayanan kapasitas besar. Aku percaya, kalo kita setia dalam perkara kecil, Tuhan akan memberikan perkara yang lebih besar sesuai kapasitas kita. Setelah latihan beberapa kali, ternyata aku orang paling muda di GMS. Muda baik secara umur dan secara keberadaan di GMS. Harusnya nggak boleh pelayanan di Natal itu, karena anak baru dan Natal merupakan acara tahunan besar di GMS, dimana semua pemimpin gereja turun tangan langsung. Wah, bersyukur banget waktu itu setelah mengetahui itu semua.
Nah, tibalah kami di tanggal 24 Desember 2009, ketika itu gladi resik natal GMS 2009. Wah, ternyata baru tau sekali itu kalo GMS ada acara ternyata semua all-out memberi yang terbaik buat Tuhan. Banyak pengalaman baru yang berharga disana. Mulai dari latihan individu, latihan kelompok, latihan bersama seluruh pelayan, gladi kotor, gladi bersih, playanan. KEREN! Allah kita memang Allah yang KEREN! Tanggal 25 Desember, kami pelayanan 3x ibadah, pagi-siang-sore.
Nah, setelah itu, tanggal 26 Desember 2009 langsung pulang Solo, karena nggak ingin ketinggalan momen natal bersama keluarga dan teman-teman di Solo, takutnya kalo kelamaan pulangnya, kesan natalnya sudah hilang.
Mulai Febuari 2010 baru ada jadwal pelayanan pertama. Dimana grup-B adalah grup yang pertama aku ikuti. Dimasukkan ke grup B mungkin dengan alasan drummer grup B adalah drummer jazz+latin, bassist nya adalah bassist paling senior di GMS. Mungkin diharapkan kolaborasi kami dapat cepat menjadi baik. Tapi entahlah, yang pasti, aku merasa enjoy di grup manapun, yang penting untuk Tuhan. Lagian tiap grup punya karakter keunikan sendiri-sendiri, jadi mereka memberikan pengalaman bermacam-macam buat aku.
Nah, mungkin nggak semua orang tahu. Dan sebenarnya jangan pada tau. Tapi buat menambah rasa perjuangan aja sih. Asal tahu aja, pemain perkusi bukanlah pemain yang selalu diharapkan di dalam sebuah team. Karena tanpa perkusi pun band masih bisa memainkan irama nya dengan baik. Dan bila perkusi saja yang bermain, tidak akan enak di dengarkan, kecuali dalam sebuah konsep perkusi. Nah, beranilah bayar harga! Itulah yang kulakukan. Di GMS sampai sekarangpun hanya punya 1 alat, yaitu timbales. Conga yang merupakan unsur paling penting dalam perkusi-latin tidak ada di GMS. Otomatis aku harus angkat-junjung alat terus dari kos ke gereja. Saat ini sudah cukup mudah, karena ada mobil yang sangat membantu dalam pelayanan. Dahulu waktu belum ada mobil, sampai harus meninggalkan alat di kantor PaW, hal ini membuat aku nggak enak, karena nggak bisa latihan di kos+merepotkan kantor PaW, karena memakan tempat cukup luas. Bila ada pinjaman mobil dari koko yang juga di Surabaya, aku ambil perkusinya, kemudian sebelum pelayanan, harus mengangkat sendiri alat-alat itu. Nggak cuma 1x jalan, mungkin dari parkiran mobil bisa mengulangnya 2-3x tergantung berapa banyak alat yang mau dimainkannya. Dan asal tahu saja, conga yang body-nya dari kayu bukanlah barang yang ringan. Barang yang berat, mungkin 10kg+. Jadi bukan hal baru kalo sebelum pelayanan sudah keringetan angkat alat. Hal itu belum selesai, otomatis setelah main, angkat alat adalah tugas wajib.
Nah, disini, janganlah lihat orang dari luarnya saja. Lihat orang jangan dari hasil saja, tapi proses dan perjuangan itulah yang menentukan keberhasilan seseorang.
Setelah itu, pelayanan tetap lancar baik di Surabaya, maupun di Solo ketika pulang kampung sewaktu liburan.
Nah, pada Januari 2011, aku disuruh untuk belajar alat musik tradisi (kendhang) oleh GMS, guna pelayanan untuk KKR Surabaya For Jesus pad April 2011. Cari guru alat musik tradisi sebenarnya di Solo nggak begitu sulit, hanya karena koneksi yang kurang luas, sehingga sulit. Nah, pada akhirnya Febuari menemukan guru kendhang jaipong dari mas Angga. Namanya Suryadi 'Plenthe'. Orang ini unik dan antik, khas seniman tulen. Proses pertemuan di studio Tabita, Solo. Itu hari Minggu. Akhirnya ngabarin GMS kalo sudah dapet guru, trus masalah biaya les mau dibiayain GMS 50:50, tapi setelah bilang ke papi, akhirnya papi bilang kalo nggak usah ditanggung gereja, nggak enak. Yaudah, akhirnya deal untuk les kendhang. Proses belajar kendhang ini lebih gila daripada belajar djembe+conga! Bayangkan aja, belajar kendhang ini 1 minggu terakhir sebelum balik ke Surabaya lagi guna kuliah. Latihan dimulai hari Senin esoknya setelah ketemuan dengan mas Plenthe. Latihan kendhang ternyata sulit banget!! Nggak cuma tangan kanan-kiri, ternyata kaki kanan-kiri juga dipakai! Nggak ngebayangin sama sekali kalo cara mainnya kaya gitu. Sudah dibilangin kalo kelamaan main kendhang badan bisa panas-dingin, kaki kram, pantat bisa-bisa ambeien. Hahaha.. Terdengar kaya menakut-nakuti sih. Hari pertama sukses. Lumayan langsung bisa dapet slap kendhang yang ternyata beda dengan slap conga. Harapan latihan sih 1 minggu, tapi ternyata cuma 4x, 4 hari berturut-turut! 1x les 2jam. Mau tau rasanya tangan kaya apa? AMBURADUL! Remuh redam tangan'e. Setelah hari ke-4, ternyata bener, badan panas dingin. Bukan karena ada hal goib, tapi emang karena badang masih penyesuain main dengan pukulan-pukulan keras.
Setelah itu, berencana punya alatnya. Bilang ke papi masalah alat ini. Karena dari kayu, maka papi punya inisiatif dibeliin kayu sonokeling, kayu keras minta ampun, tapi setelah difinishing, hasil'e mbuat mas Plenthe pengin punya juga. Polesan temen papi buat finishing kayu emang keren banget! Nah, ternyata kendhang itu mau disewa gereja buat pelayanan April. Karena kendhang belum bisa selesai, otomatis pinjem alat dari mas Plenthe dulu (kendhang kulanter nya), karena kendhang besar punyaku sudah selesai dipoles. Nah, setelah 4 hari latihan, 1bulan kedepannya tanpa pegang kendang sama sekali, kita 1 team perkusi GMS latihan buat SFJ. Wah, latihan itu paling berat buat aku. Karena harus angkat alat + main kendhang dalam keadaan ruang dingin. Ruang dingin itu musuh pemain kendhang, karena tangan bakal bisa pecah-pecah sampe berdarah. Sampai gladi resik SFJ, aku masih pakai tensoplast diruas-ruas jari karena berdarah-darah gara-gara latihan diruang dingin. Akhirnya SFJ sukses, semua kemuliaan bagi Tuhan.
+ Nah, mungkin orang melihat aku sekarang sudah mapan, bisa main perkusi dengan baik. Tapi, anda salah! Permainanku masih standar banget, malah bisa dibilang jauh banget dari profesional. Tapi, berlatih dan nggak tutup mata dari dunia luar adalah kunci berhasil.
+ Jangan pernah mengeluh! Aku bisa saja mungkin mengeluh buat nggak angkat-angkat alat perkusi, tapi aku nggak mau. Semua ada waktunya, nanti pada waktunya, apa yang telah di tabur, bakal di tuai berlipat kali ganda.
+ Kembangkanlah bakatmu, talenta yang Tuhan percayakan sungguh sangat banyak. Nggak mungkin orang nggak punya talenta!
+ Jangan pernah merasa terlambat. Aku belajar nggak pernah merasa terlambat. Baru semester 7 ini aku mau belajar gitar dari 0, itu nggak mungkin terlambat! Karena jalan hidup masih panjang, jadi belajar lebih awal lebih baik. Jangan pernah ditunda.
+ Dimana ada niat, disitu ada jalan. Dimana ada perjuangan, disitu ada kesuksesan.
Khusus bagi pemain perkusi:
1.) Jangan pernah sombong karena kamu bisa bermain perkusi. Tanpa percussionist, sebuah band masih bisa menghasilkan harmonisasi yang baik.
2.) Jangan pernah minder untuk mencoba sesuatu yang baru. Pemain perkusi akan selalu menjadi ikon kecil dalam suatu grup musik. Karena tidak banyak pemain perkusi, sehingga kamu bakal lebih mudah dikenal. Tapi jangan pernah sombong, inget nomer 1!
3.) Jangan terlalu pede untuk memaksakan kehendak, dimana kamu harus selalu bermain dalam setiap ketukan. Karena kedewasaan bermusik mu sangat dihargai ketika kamu bisa membawa diri dalam setiap harmoni.
4.) Jangan pernah merusak tempo dan harmonisasi, bukan karena kamu, tapi karena team.
5.) Dengarkanlah nasehat dan masukan orang lain. Itu akan sangat membantu dalam permainanmu.
6.) Just follow the beat and make your own way. Drum dan bass adalah sahabat bagi perkusi, ikuti mereka dan perkaya harmonisasi team dengan permainanmu.
7.) Andalkan Tuhan dalam setiap permainanmu.
Thanks buat mami, papi, koko, cece, yang selalu support baik dana, semangat, waktu, dll. Belajar musik tidaklah murah, tapi dengan kemauan yang besar, uang bukan menjadi batu sandungan.
God Bless! To God be the glory!
Keep Up!!
ReplyDeleteits a long long journey...dan biar semua utk kemuliaanNya :D
syalom.. salut buat prosesnya.. kapan'' kalo balik solo boleh sharing'' latin pecussion ya.. thx.. Gbu :)
ReplyDeleteyour welcome. oh, dengan senang hati..
Delete