Apa yang bisa dibayangkan ketika kita membaca atau mendengar berita dari koran / majalah / bahkan dari televisi yang menyebutkan bahwa ada yang terjadi diluar sana? Tentu kita biasanya akan lebih ingin mengerti / penasaran tentang hal yang diberitakan itu.
Memang yang diajarkan di sekolah tentang 5W 1H itu ada benarnya. Tapi, apakah kita harus menjadi budak dari 5 W 1 H tersebut? Bisa ya, bisa tidak.
Akhir2 ini memang sangat banyak berita yang HIPERBOLA! Mengapa saya katakan demikian? Karena apa yang ada di berita akhir2 ini kadang sudah tidak layak konsumsi, dan hal itu membuat kita kadang menjadi terlalu kritis, yang akhirnya mengakibatkan pada kebohongan publik atau kadang mereka-reka sendiri berita yang terjadi, dengan kata lain, kita bumbuhi berita tersebut agar lebih sedap didengar.
SAMPAH! Mungkin itu yang akan saya katakan pada media massa akhir2 ini, sehingga membuat kita menjadi pecah belah. Bukankah kita seharusnya disatukan oleh media massa? Memang media massa mencari keuntungan dari segala yang terjadi, terlebih dari hal2 yang kurang umum. Tapi apakah harus dengan cara yang 'fana' untuk mendapatkan sebuah berita atau dengan kata lain menghalalkan segala cara untuk mengeksploitasi berita yang ada guna konsumsi+marketing yang baik? Apakah demikian diajarkan oleh sekolah2, terutama bidang komunikasi, tentang bagaimana mengeksploitasi berita? Dari apa yang saya tahu dan pahami, memang kita diajarkan untuk memberi HEADLINE yang membuat orang penasaran dan ingin lebih lagi mendengar / mengerti tentang berita yang akan disampaikan. Hal ini dibuat sedemikian rupa, sehingga orang penasaran, tapi TIDAK MEMBOHONGI masyarakat.
Bagaimana bisa, salah 1 televisi nasional swasta yang memberitakan tentang banjir di Jakarta pada tahun 2010 secara berlebih-lebihan?! Katanya sih banjirnya 1 meter. Apa yang di pikirkan orang ketika mendengar banjir 1 meter? Bukannya kalau 1 meter, sepeda motor sudah tenggelam? Buktinya nih, waktu itu saya melihat di televisi 'satu' reporter sedang mewawancarai Fauzi Bowo, yang notabene adalah walikota Jakarta, langsung aja pak FB marah2 kepada reporter, secara garis besar dia berkata demikian :" Mana ada banjir 1 meter? Kamu lihat sendiri kan kalau itu kendaraan semua bisa lewat, mana ada banjir? Yang ada cuma genangan air! Jangan mengada-ada kamu kalau membuat berita! " Langsung aja saya tersenyum melihat reporter tersebut dimarahin pak kumis. hahahaha... Mungkin yang ada dipikiran reporter yang melaporkan berita tersebut adalah ketinggian banjir 1 meter dari sungai Ciliwung kali ya? hahahaha...tolol!
Yang paling fresh, adalah kasus Ambon! Baru kemarin, tanggal 11 September 2011 ini mencuat. Saya memang tidak sempat menonton tv untuk mengecek kebenaran beritanya, tapi saya cek lewat twitter, bahwa keadaan kota Ambon sedang tegang. Saya pikir memang Ambon sedang ada konflik agama-ras lagi. Tapi, nyatanya orang Ambon sendiri nge-tweet bahwa Ambon aman. Dan malah ia marah ketika televisi 'biru' melaporkan keadaan tegang di kota Ambon. Justru, setelah itu Ambon menjadi panas, karena dikompori oleh masyarakat+media massa.
Kadang, media massa keterlaluan dalam mengambil kebijakan melaporkan hal yang mungkin tidak perlu dilaporkan, sehingga memperkeruh suasana. Memang media massa adalah badan yang netral. Tapi saya sudah mulai meragukan kenetralan kalian. Hanya ada segelintir orang yang memang benar-benar netral.
Juga kadang terpikir, mungkin Orde Baru punya cara tersendiri guna memberangus media massa yang dianggap menyusahkan pemerintah. Memang saya bukan orang yang pro kepada Orde Baru, saya adalah orang yang kontra dengan Orde Baru. Tapi, tidak ada salahnya untuk mengambil yang baik dan membuang / membenahi yang kurang baik. Media massa yang ada sekarang cenderung kearah politik dan dipolitikan. Sudah gamblang tercermin, tapi kadang tidak semua orang mau kritis untuk melihat kebobrokan media massa.
Yahhhh... Semua ini bisa terjadi karena mental dan peradaban. Saya harap saja, agar semua media massa untuk tergerak menjadikan Indonesia yang lebih maju dan utuh. Bhinneka Tunggal Ika.
Mungkin ini uneg-uneg saya saja, bila ada yang kurang berkenan, mohon dimaafkan.
No comments:
Post a Comment