Aku disini kau disana
Tak menghalangi jiwa kita
Dalam hangatnya sang mentari
Satukan jiwa dan hati
Berpegang tangan dalam mimpi yang sama
Dan tunjukkan kepada dunia
Kita bisa kita pasti bisa
Kita akan raih bintang-bintang
Kita bisa jadi yang terdepan
Bersatu bersama dalam satu irama
Terbang meraih kejayaan
Kita bisa
Wa e wa e o
Wa e wa e o
Wa e wa e o
Wa e wa e o
Menang kalah bukan masalah
Persahabatanlah yang terhebat
Senyuman hangat takkan terlupakan
Dan tunjukkan kepada dunia
Kita bisa kita pasti bisa
Kita akan raih bintang-bintang
Kita bisa jadi yang terdepan
Bersatu bersama dalam satu irama
Terbang meraih kejayaan
Kita bisa
Kita bisa kita pasti bisa
Kita akan raih bintang-bintang
Kita bisa kita pasti bisa
Kita bisa jadi yang terdepan
Kita bisa kita pasti bisa
Kita akan raih bintang-bintang
Kita bisa jadi yang terdepan
Bersatu bersama dalam satu irama
Terbang meraih kejayaan
Kita bisa!!
Lirik lagu ciptaan Yovie Widianto, masih kuat ada di bayang-bayang ingatan. Lagu yang hebat, aransemen yang keren, membuat orang yang pertama kali mendengarnya pun akan ikut larut dalam euforia Seagames.
Kali ini Seagames dilaksanakan di Indonesia, sebagai tuan rumahnya dipilih 2 kota, yaitu Jakarta dan Palembang. Palembang sebagai tuan rumah utama, disokong Jakarta, sebagai kota kedua, karena keterbatasan fasilitas yang ada di salah 1 kota besar di Sumatera tersebut.
Pembukaan Seagames yang luar biasa hebat, sempat membuat decak kagum masyarakat Indonesia pada khususnya, dan masyarakat ASEAN pada umumnya. Indonesia patut berbangga akan hal ini. Tata cahaya, permainan kembang api, tari-tarian, sampai defile yang kehujanan, seakan melengkapi malam panjang pembukaan Seagames ke-26 itu.
Hari demi hari, Indonesia terus memimpin perolehan medali emas-perak-perunggu diantara negara-negara ASEAN lainnya. Cabang-cabang olahraga yang biasanya menjadi lumbung medali emas tetap bisa dipertahankan, seperti renang, atletik, bulutangkis.
Setau saya ada 13 cabor (cabang olahraga) yang tidak mendapatkan emas, 3 diantaranya adalah basket, sepakbola dan voli putra. 3 olahraga yang mempunyai banyak penggemar itu gagal mendapatkan emas di seagames kali ini.
Sepakbola kalah dengan Malaysia (perak), Basket kalah dengan Thailand (perunggu), Voli kalah dengan Thailand (perak).
Emas memang tujuan utama dalam perburuan Seagames, tapi bagaimana anda memandang emas sebagai medali dalam event 2 tahunan ini?
Saya memiliki pandangan yang mungkin sedikit berbeda dari pandangan orang Indonesia pada umumnya.
Saya mulai dari masalah juara umum, klasemen perolehan medali. Indonesia saat ini mengumpulkan lebih dari 180 medali emas. Ini tentunya sudah tidak bisa dikejar lagi oleh Thailand sebagai runner-up klasemen. Tapi, apakah semulus itu jalannya pertandingan?
Tentunya TIDAK! Indonesia diuntungkan oleh faktor tuan rumah. Dimana Indonesia dapat mengikuti semua cabor yang ada dengan atlet yang banyak sekaligus. Memang ada batasan maksimal atlet tiap negara yang boleh mengikuti pertandingan. Amunisi atlet Indonesia yang berlimpah ini tentunya memperbesar peluang Indonesia dalam meraup medali. Bila negara lain mengirim 3 atlet di tiap cabor, Indonesia dapat mengirimkan sampai 5 atlet di tiap cabornya. Mengapa demikian? Karena biaya akomodasi dan lain sebagainya tentu lebih murah. Masuk akal? Ya, karena tanpa biaya transportasi ke luar negri yang mahal, maka biaya untuk transportasi dialihkan untuk pendaftaran atlet.
Olahraga mau tidak mau tidak bisa objektif, memang kita harus objektif dalam pengambilan keputusan dan mengikuti aturan yang berlaku. Tapi tolong diingat, tidak semua cabor memiliki aturan yang mengikat. Contoh aturan yang mengikat adalah catur, dalam catur mau tidak mau kuda akan berjalan membentuk leter-L, tidak bisa kita menjalankan kuda dengan seenaknya kita sendiri dengan cara menjalankan kuda leter-S. Tapi, ada cabor yang aturannya tidak mengikat, karena ditentukan oleh wasit / juri. Contohnya tinju, faktor juri dan wasit sangat kuat. Misal ada jab-hook yang masuk ke badan musuh, dan mungkin tidak terlihat oleh juri, maka tidak akan dihitung angka. Nah, human-error disini memang bisa terjadi.
Faktor tuan rumah, mau tidak mau juga akan berpengaruh terhadap keputusan wasit, juri, ataupun pengawas pertandingan. Mungkin adanya ancaman, tekanan, ataupun suap bisa saja terjadi. Wasit, juri dan pengawas pertandingan tidak hanya orang Indonesia saja, bahkan tidak hanya orang ASEAN saja, karena ada yang dari luar ASEAN. Hal ini bisa dibilang menguntungkan dan merugikan bagi Indonesia. Faktor tuan rumah seringkali menjadi batu sandungan untuk kita sendiri. Negara lain otomatis menjadikan tuan rumah sebagai musuh bebuyutan utama dibanding negara peserta lain, ini dikarenakan biasanya terdapat kecurangan yang dibuat oleh tuan rumah, serta banyaknya pendukung tuan rumah, kadang menjadi pecut semangat untuk negara tamu.
Negara lain banyak yang menyayangkan sikap curang yang dibuat oleh Indonesia, entah itu dari segi tekhnik dalam tiap cabornya, maupun kecewa dengan panitia pertandingan yang cenderung ingin memenangkan Indonesia.
Akan saya bahas 4 cabor olahraga, yang menurut saya merupakan cabor yang patut mendapat sorotan khusus. Entah itu positif, maupun negatif. Sekali lagi, ini menurut pendapat saya pribadi.
PENCAK SILAT
Pencak silat merupakan olah raga asli Asia Tenggara, yang sudah terkenal dipenjuru negara, dan sudah dimasukkan dalam daftar cabor yang dipertandingkan sampai wilayah ASIA. Pesilat Indonesia sangatlah terkenal, karena adanya prestasi hingga tingkat dunia (kejuaraan dunia).
Nah, pencak silat yang seru adalah ketika Indonesia melawan Thailand. Mari kita lihat video-nya sebentar.
Betapa memalukannya bila hal seperti itu terjadi???
Atlet Indonesia menggigit atlet Thailand dan sampai lari terbirit-birit ketika dikejar oleh atlet Thailand. Memalukan! Mana sikap pendekar yang selama ini dibanggakan oleh pencak silat?
Oleh karena hal ini, media Thailand menghujat habis-habisan atlet Indonesia pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Kita dipermalukan.
Oleh karena hal ini, media Thailand menghujat habis-habisan atlet Indonesia pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Kita dipermalukan.
BASKET
Cabor favorit saya. Basket Indonesia telah dipersiapkan secara sangat matang. Saya salut dengan para atlet yang mati-matian memperjuangkan nama Indonesia di cabor ini. Memang, wasit masih kurang profesional. Ketiga wasit yang kurang kompak dan kadang masih merugikan tim. Selisih 15 poin dari Thailand dibabak semifinal bisa dikejar hingga akhirnya Indonesia kalah 3 poin. Ini karena dewi fortuna masih belum berpihak ke kita.
Hasil latihan yang hebat, sampai ke Australia dan dilatih oleh pelatih Australia, setidaknya memperbaiki masalah-masalah fisik dan tekhnik pemain Indonesia. Sangat membantu, dan saya apresiasi kepada seluruh pemain, tim pelatih, official, dan perbasi + Azrul Ananda. Kalian membanggakan!
Jangan tanya masalah Filipina, sang juara memang layak menjadi juara karena mereka menaturalisasi pemain Amerika. Kita kalah kelas dengan Filipina, karena mereka sudah mengincar kelas yang lebih tinggi, tidak lagi di wiliyah Asean, tapi sudah ke wilayaha Asia.
BULUTANGKIS
Hampir saja kita menyapu bersih 7 medali emas. Dari target 4 medali emas, akhirnya kita tembus 5 medali emas.
Membanggakan? Kurang. Mengapa kurang? Karena kita memang seharusnya mendapatkan 7 medali emas. Bagaimana bisa? Ya, ini memang pendapat saya saja. Karena kita tembus final di 7 nomor yang dipertandingkan. Selain itu, Malaysia tidak menurunkan para pemain terbaiknya. Secara statistik dan sejarah, kita adalah raja di kawasan ASEAN.
Kita masih menurunkan pemain senior yang sudah habis tenaganya, Taufik Hidayat. Sedangkan Malaysia dan Thailand menurunkan banyak pemain muda. Memang, kita juga menurukan pemain muda. Hayom Rumbaka juga berbicara banyak di sektor single-tim putra, dan ia menjadi penentu kemenangan. Tapi, di sektor perseorangan? Kita belum bisa berbicara banyak.
Tidak begitu mengherankan, dalam kurang lebih 1 dasawarsa ini bulutangkis Indonesia diobok-obok oleh Malaysia, Thailand, dan CHINA!
Pelatih-pelatih hebat Indonesia sampai diimport ke negeri seberang, Malaysia dan India jelas-jelas menggunakan tenaga anak bangsa untuk melatih putra-putri terbaik mereka.
Tim putri Indonesia kalah menyakitkan ketika hanya diberi perak oleh Thailand di final tim putri. Dan di perseorangan putri, Adrianti Firdasari kalah dari tunggal Singapura. Memang sih, sektor putri kita sudah lenyap nampaknya setelah era kejayaan Mia Audina dan Susi Susanti. Srikandi Indonesia seakan masih belum menampakan anak panahnya. Adrianti sewaktu final tunggal putri juga cedera bagian perut, dan hal itu sedikit banyak juga berpengaruh ke permainannya. Tapi dimana tunggal putri lain nya? Bukannya kita tidak hanya punya Adrianti F. saja 'kan?
Di sektor putra, Taufik Hidayat sudah uzur. Melawan pemain non-unggulan Thailand pun kerepotan. Mana regenerasinya? Bukannya dana yang dikeluarkan tidak sedikit untuk pelatnas?
Mungkin kritik saya tidak akan didengar, tapi cobalah dengar saran saya, seorang yang awam ini. Kembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia! Bulutangkis adalah olahraga penyumbang medali emas Olimpiade. Pulangkan pelatih-pelatih Indonesia yang ada diluar negri. Bayar mereka sepadan dengan prestasi yang akan mereka sumbangkan untuk atlet Indonesia. Bukannya pelatih kita lebih mengetahui cara bermain dan postur serta kelebihan dan kekurangan atlet kita sendiri?! Para pelatih Indonesia dibayar mahal untuk menghasilkan bibit juara dan juara di negara lain. Menyedihkan. Kalau tidak percaya, silakan tanyakan kepada mereka, maukah mereka pulang untuk melatih dinegara sendiri, bila bayaran mereka sepadan? Mereka pasti mau, karena Indonesia.
Mungkin dengan memperbanyak turnamen, pertandingan dan hadiah, maka akan lebih cepat memantau bibit-bibit juara dimasa depan.
Bulutangkis menyediakan 7 medali emas, dibandingkan dengan sepakbola atau basket yang hanya menyumbangkan 2 medali emas ditiap cabornya (putra-putri). Ini merupakan lumbung medali!
SEPAKBOLA
Euforia sepakbola masih kuat, tatkala Garuda Muda terus meraih kemenangan di Seagames 2011 ini.
Diawali menggilas Kamboja 6-0, dilanjutkan 2-0 melawan Singapura, kemudian kebobolan 1 gol saat melawan Thailand 3-1, dan kalah melawan Malaysia 1-0 dibabak penyisihan grup. Hal ini membuat Indonesia menjadi runner-up grup A, dibawah Malaysia.
Dibabak semifinal, Indonesia menggilas Vietnam 2-0 dengan kemenangan meyakinkan dan membanggakan.
Coach Rachmad Darmawan membawa Garuda Muda terbang melayang dan dibumbung lebih tinggi oleh para suporter setia Indonesia.
Nama-nama pemain yang jarang didengar, karena terhalang kemilau Gonzales, Bambang Pamungkas, Firman Utina, Boaz, maupun Markus Horizon dengan cepat diingat oleh pecinta sepakbola tanah air. Sebut saja Patrich Wanggai, Titus Bonai, Okto, Egi sang kapten U-23, kemudian Kurnia Meiga, dan pemain naturalisasi Diego, semua langsung dihafal oleh rakyat Indonesia semenjak mereka menggilas Kamboja 6 gol tanpa balas.
Kekalahan pada babak terakhir penyisihan grup A melawan Malaysia memang cukup menyakitkan, karena Indonesia selalu tampil baik sebelumnya, hanya karena 7 pemain lapis 1 kita diistirahatkan, maka kita kalah 1-0 dari Malaysia, but everything gonna be okay. Yang penting kita lolos semifinal.
Di semifinal, kita melawan Vietnam. Saya sungguh terkesan dengan penampilan kiper Vietnam (dengan semangat Vietcong) ia menepis hampir semua bola yang menyerang gawangnya. Sampai-sampai cedera leher akibat jatuh saat mau menepis tengan sudut Egi M.
Akhirnya Patrich Wanggai membuat gol dari tendangan bebas. Ditambah gol Titus Bonai, akibat bola mengenai pemain belakang Vietnam sebelum gol, sehingga mengubah arah bola dan mengelabui kiper Vietnam. 2-0 untuk Indonesia.
Di final, melawan Malaysia, saya menonton bareng di Surabaya Town Square bersama teman-teman. Riuh rendah seperti menonton di GBK langsung, karena semua tenant di sana menyiarkan langsung Indonesia - Malaysia. Gol dimenit ke-5 dari Gunawan D.C. membuat Sutos menggema, gegap gempita. Kemudian 2 gol Indonesia lainnya juga sempat membuat Sutos bersorak, tapi keputusan offside dari hakim garis membuat kita kecewa. Gol dari Malaysia juga membuat para suporter hening dan kesal.
Akhirnya fulltime+extratime habis, masuk ke fase penalti. Fase yang seru. Tapi, Indonesia akhirnya gagal meraih emas, karena skor 3-4 untuk Malaysia.
Nah, bukan masalah menang-kalah. Toh, medali yang disumbangkan oleh 11 pemain itu hanya dianggap 1 medali saja. Bukan masalah Indonesia vs Malaysia, tapi mari kita lihat dari segi positifnya.
Seberapa pentingnyakah laga final sepakbola itu dimata masyarakat Indonesia? Sangat penting! Ini merupakan harga diri. Mengapa harga diri? Ya, Indonesia harus menunggu 20 tahun untuk menatap emas sepakbola Seagames ini. Indonesia seakan benar-benar haus juara sepakbola. Setelah tim senior diacak-acak di penyisihan Piala Dunia zona Asia, semua masyarakat hanya berharap pada Garuda Muda untuk meraih hasil emas! Tapi, semuanya musnah, tatkala Kurnia Meiga gagal mengantisipasi tendangan algojo terakhir Malaysia. Bukan salah Kurnia Meiga, dia bermain sangat baik selama Seagames ini dan pilihan utama kiper di U-23 Indonesia. Dan saya pikir, dia bermain lebih baik daripada Markus Horizon yang kebanyakan akting (apa mungkin gara-gara diajarin istrinya akting ya?!)
Sadarkah kalian? acara nonbar disemua tempat menjadi jujugan utama malam kemarin, tanggal 21 November 2011 itu. Nasionalisme kita seakan berlipat ganda. Sepakbola mempersatukan kita. Siapa sih yang mengira, kalau orang pinggiran jalan sampai bos besar membicarakan tentang Indonesia, karena kita SATU!
Pahlawan-pahlawan bangsa itu berjuang mati-matian dan memberi yang terbaik untuk Garuda. Stadion GBK penuh oleh suporter Indonesia, dan segelintir suporter gila Malaysia. Mengapa saya katakan gila? Karena mereka benar-benar berani masuk kandang Garuda yang memerah itu.
Salut kepada Garuda Muda, masih ada harapan, dan kalian memang harapan negara ini, ditengah kebisingan politik sampah dari pemimpin negara ini yang tidak bisa memimpin negara dengan baik. Hanya saling menyalahkan, saling menutupi korupsi dan kesalahan, serta mengacak-acak tatanan negara ini.
Apa jadinya bila sampai Papua lepas dari Indonesia? Tidak akan ada nama Patrich Wanggai, Titus Bonai, dan Okto di timnas. Bisa dibayangkan?? Apa kita akan terus menaturalisasi atlet keturunan Indonesia? Tanah perjanjian itu ada di Timur Indonesia. Mutiara Hitam yang akan bersinar sampai kapanpun. Pertahankan!
Dan saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Presiden RI, karena ketidak hadiran anda, setidaknya tidak membuat stadion GBK menjadi tambah crowded karena penjagaan yang berlebih. Serta, setidaknya Indonesia tidak kalah langsung, masih ada babak penalti. Karena sepengetahuan saya, kehadiran beliau bukan hal baik untuk timnas, dari beberapa kali pertandingan yang dihadiri langsung Presiden RI, Garuda kalah langsung. ^^
----------------------------------------------------------------------------
Nah, mungkin hanya 4 cabor saja yang saya bahas kali ini.
Tapi yang paling penting yang akan saya bahas adalah masalah OLAHRAGA.
Olahraga merupakan bahasa Indonesia. Berasal dari kata sport dalam bahasa Inggris, yang berarti sportif. Sportif adalah berikap ksatria, jujur, tegap, gagah.
Nah, olahraga adalah bahasa Indonesia yang diartikan gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh.
Bila saya gabungkan, maka olahraga adalah kegiatan menggerakan tubuh untuk menyehatkan tubuh, yang dilakukan dengan bersikap ksatria dan jujur.
Memang catur tidak bisa dikatakan olahraga, tapi sportifitas tetap menjadikan catur 'sport'.
Maka, apa artinya olahraga bila kita menang, hingga juara dan dapat medali tapi kita tidak jujur dalam melaksanakannya? Nothing!
Menjadi juara dan bahkan juara umum di SEAGAMES ke-26 bukanlah kebanggaan utama saya. Memang cukup membanggakan, karena dapat merebutnya kembali dari tangan Thailand dan Vietnam yang beberapa tahun terakhir menjadi raja ASEAN. Tapi bila kemenangan itu ternoda dan tidak diakui langsung oleh para lawan kita, apa artinya itu semua? Hanyalah FAKE saja.
Akhirnya, penyelenggaraan SEAGAMES 2011 ini akan diakhiri hari ini di Palembang. Dengan segala kekurangan dan kelebihan penyelenggaraan ini, mulai dari kasus korupsi wisma atlet, hingga kekalahan sepakbola Indonesia, dan nanti pada akhirnya ditutup di Palembang lagi, semuanya menjadi pelajaran penting bagi seluruh rakyat Indonesia.
Saya berharap, bonus yang dijanjikan Menteri Pemuda dan Olahraga RI, untuk atlet berprestasi akan segera cair, dan jangan lupakan bonus untuk pelatih dan official. Jangan dipotong habis-habisan karena embel-embel pajak dan lain-lain, karena akan menyakitkan menerima bonus yang tidak utuh.
Olahraga menyatukan kita semua, jangan ada lagi intrik politik didalam kepengurusan maupun pertandingan olahraga. Mari kita junjung tinggi SPORTIFITAS, lakukan semuanya dengan sikap KSATRIA!
AYO INDONESIA BISA!!
Sampai bertemu di Myanmar 2013! Lanjutkan tradisi juara!
Wa e wa e o!!